05/01/12


Oleh Ardi Andono, MSc (1)
Bagi masyarakat Indonesia, saat ini popularitas Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) sudah hampir sejajar dengan Badak Jawa, Badak Sumatera, Harimau Sumatera, Gajah Sumatera dan Orang Hutan. Popularitas ini menobatkan Elang Jawa menjadi satwa nasional sejak tahun 1993. Namun jika kita bertanya siapakah penemu Elang Jawa? Bagaimaan kisah hidupnya? dimanakah hasil karya-karyanya? Sumbangsih apa yang telah diberikan bagi dunia ilmu pengetahuan Indonesia? Tentu sangat sedikit yang tahu.
Bartels merupakan nama (keluarga) dari penemu Elang Jawa yang ternyata telah menemukan 21 species baik berupa burung, kelelawar, dan tikus, 7 diantaranya masuk dalam Red List IUCN, serta 2 genus tikus-tikusan. Selain itu, ribuan specimen dan telur burung koleksi pribadi "dirampok" oleh  Ilmuwan Belanda dengan menggunakan jasa tentara Jepang, saat ini koleksi tersebut berada National Museum of Natural History (NMNH ) Leiden, The Netherlands. Hingga, Bartels Junior meninggal sebagai Rhomusa di Burma dengan meninggalkan anak perempuannya yang baru berumur 5 tahun dan baru diketahui makamnya 50 tahun kemudian.
Seluruh kisah tersebut tidak terlepas dari lokasi musium sekaligus rumah oleh keluarga Bartels di Pasir Datar Sukabumi yang saat ini menjadi Taman Nasional Gn Gede Pangrango (TNGGP).
Saat ini terjadi salah persepsi tentang siapakah Bartels atau Max Bartels, yang ternyata merupakan dua orang yang berbeda yakni Max Edward Gottlieb Bartels (24 January 1871-7 April 1936) atau MEG Bartels (ayah) dan Dr. Max Bartels (anak) (7 Juni 1902 - 6 Oktober 1943). Pada mulanya nama Max Bartels digunakan oleh MEG Bartels sang ayah dalam jurnal-jurnal ornitologinya sebagai nama singkatnya, namun setelah anak pertamanya lahir nama itu diberikan kepada anak tertuanya. Untuk membedakan hasil karya ayah dan anak, beberapa peneliti terkenal seperti Edwin Stresemann, HJV Sody dan J H Becking membedakan mereka sebagai Max Bartels Sr (MEG) dan Max Bartels Jr. Didalam tulisan ini akan digunakan MEG Bartels sebagai Max Bartels Senior dan Dr. Max Bartels sebagai Max Bartels Junior.
  • Max Edward Gottlieb Bartels (24 January 1871-7 April 1936)
MEG Bartels, berkebangsaan Jerman, adalah seorang Ornithologi yang dilahirkan di kota Bielefeld Jerman dari seorang ayah yang bekerja sebagai arsitek. Ia merupakan anggota Deutsche Ornithologische Gesellschaft (Jerman Ornitologi Society) yang berpusat di Boon sejak tahun 1903. Pada tahun 1895, MEG Bartels (usia 24 tahun) hijrah ke Pulau Jawa untuk menghindari Wajib Militer di Jerman, selain itu MEG Bartels sangat tertarik pada kehidupan alam liar terutama burung.
MEG Bartels bekerja pada Perkebunan Teh "Pangrango" dengan lokasi pada Resort Pasir Datar, Sukabumi hingga pada tahun 1898 MEG Bartels telah menjadi Kepala Perkebunan tersebut.
Pada tanggal 19 Agustus 1901, MEG Bartels menikah dengan Angeline Cardine Henriette Maurenbrecher orang Belanda yang memiliki keahlian sebagi pelukis dan salah satu lukisannya berada di National Museum of Natural History Leiden. Hasil pernikahannya terlahir Dr. Max Bartels Jr (1902-1943), Ernst Bartels (1904-1976), dan Hans Bartels (1906).
MEG Bartels memiliki kegemaran mengoleksi specimen satwa terutama berbagai jenis burung dan telurnya, harimau jawa, macan tutul, tikus, tulang banteng dll tercatat sebagai koleksi Keluarga Bartels yang kini berada di National Museum Of Natural History (NMNH) Leiden. Berkat kegemarannya tersebut, beberapa nama burung, tikus dan tupai berhasil diidentifikasi berdasarkan koleksinya oleh karena itu nama Bartels (2)/Max (3) /Angeline (4) digunakan dalam nama latin satwa tersebut. Untuk menampung koleksinya tersebut MEG Bartels membangun sebuah museum koleksi di Pasir Datar, Sukabumi Taman Nasional Gn Gede Pangrango.
MEG Bartels meninggal pada tanggal 7 April 1936 dan dimakamkan di Pasir Datar sesuai surat wasiat yang disampaikan kepada anak sulungnya, Dr Max Bartels, yang mengharapkan dimakamkan berdekatan dengan museum dan pegunungan.


  • Hasil penelitian MEG Bartels

Hingga saat ini MEG Bartels tidak diketahui tingkat pendidikannya, namun ia menghasilkan jurnal jurnal ilmiah yang diterbitkan di Jerman maupun di Belanda. Tulisan ilmiahnya yang sangat berpengaruh bagi perkembangan burung di Pulau Jawa adalah "Zur Ornis Javas" (1901) yang berisi katalog 239 spesies terutama dari Jawa Barat. Dari katalog spesies tersebut, Crithaga estherae Finsch, Caprimulgus bartelsi Finsch, dan Syrnium bartelsi Finsch dideskripsikan sebagai spesies baru oleh Finsch, "Zur Lebens- und Nistweise Javanisches Vogel" (1903, 10 spesies dari Jawa Barat), "Systematische Übersicht meiner Java-Vogel" (1906). Jurnal yang berhasil di tulis sepanjang tahun 1901 hingga 1923 sebanyak 19 jurnal.
Nama MEG Bartels diabadikan dalam beberapa nama satwa yakni :
  1. Bartels' Nightjar (Caprimulgus pulchellus bartelsi Finsch, 1902),
  2. Burung Hantu Bartels, Bertels's wood Owl Strix (Strix leptogrammica bartelsi Finsch, 1906),
  3. Burung Hantu (Syrnium bartelsi Finsch, 1906),
  4. Burung Kacamata Kuning, Yellow-bellied White-eye (Zosterops chloris maxi Finsch 1907),
  5. Tikus bartels, Bartels's Spiny Rat (Maxomys bartelsii Jentink, 1910),
  6. Golden Winged Bat (Chtysopteron bartelsii Jentink 1910),
  7. Myotis formosus bartelsii Jentink 1910,
  8. Rattus bartelsii Jentink 1910,
  9. Sunda Mountain Shrew (Crocidura monticola Peters, 1870 sinonim dengan Crocidura Bartelsii Jentink 1910),
  10. Celepuk Jawa (Otus angelinae, Finsch, 1912),
  11. Elang Jawa, Javan Hawk Eagle (Spizaetus bartelsi , Stresemann,1924).
  12. Collocalia inexpectata bartelsi Stresemann sinonim dengan Collocalia francica bartelsi Stresemann
  13. Collocalia fuciphaga bartelsi , sub species dari Collocalia fuciphaga


  • Dr. Max Bartels (7 Juni 1902 - 6 Oktober 1943)

Dilahirkan di Pasir Datar, Sukabumi sebagai anak pertama dari MEG Bartels, ia dikenal telah menyukai berburu sejak kecil. Dr. Max Bartels mendapatkan pendidikan Eropa dan pada bulan Mei 1932 mendapatkan gelar Dr/PhD dari Bern Switzerland dalam bidang Zoology. Dr. Max Bartels menikah dengan seorang perempuan pribumi yang bernama Ipitsari A, dari hasil pernikahannya mendapatkan seorang putri bernama Ieuce Maryati (16/11/1936) yang kini tinggal di Sukabumi.
Setelah menyelesaikan pendidikannya Dr. Max Bartels bergabung dengan Earns Bartels adiknya yang berkerja di perkebunan teh Tjiboeni di Gn Patuha Bandung Jawa Barat. Pada tahun 1932-1937, Dr. Max Bartels banyak berkolaborasi dengan H.J.V Sody (5), dan melakukan ekpedisi ke Gn Ciremai, Gn Lawu, dan Pananjung Pangandaran juga Nusakambangan. Pada periode ini Dr. Max Bartels menghasilkan seri Mamalia Pegunungan Jawa.
Dari hasil penelitiannya Max Bartel tercatat banyak menorehkan namanya pada Rodentia :
  1. Javan Giant Rat Rattus maxi Sody 1932 atau Sondamy maxi Sody 1932,
  2. Rattus bartelsi tjibuniensis Sody 1933,
  3. Hylomys suillus maxi Sody 1933,
  4. Ratus bartelsii obscuratus Bartels 1938,
  5. Tupai terbang Sumatera (Petaurista bartelsi Sody 1936),
  6. Max Bartels's Shrew (Crocidura maxi Sody 1936),
  7. Rattus infraluteus maxi Bartels 1937,
  8. Hylopetes bartelsi Chasen 1939,

Dari hasil kolaborasi dengan Sody menghasilkan dua genus Rodentia yakni yakni Maxsomys dan Kadarsanomys. Selain itu Dr. Max Bartels juga memberi nama species tikus yang hanya hidup di Gn Gede Pangrango dengan nama Rattus canus sodyi Bartels 1937 sebagai penghormatan kepada Sody setelah melakukan pendiskripsian jenis tikus ini dari koleksi milik Max Bartels Sr.
Selain itu, Dr. Max Bartels dan Sody juga bekerja sama dengan Dr. Sampurno Kadarsan, dan menghasilkan satu genus tikus arboreal yang hidup di bambu pada Gn Gede Pangrango dengan nama Genus Kadarsanomys dan jenisnya adalah Kadarsanomys sody. Penelitian ini berdasarkan koleksi tikus yang dimiliki oleh Keluarga Bartels yang dikumpulkan dari Gn Gede Pangrango. Kolaborasi ini merupakan kolaborasi unik dari tiga orang ilmuwan yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda yakni Dr. Max Bartels, seorang keturunan Belanda-Jerman yang dibesarkan di Jawa; Sody Seorang Belanda yang dibesarkan di Belanda; dan Dr. Sampurno Kadarsan seorang Java dengan pendidikan Eropa. Data mengenai Kadarsanomys sody sangatlah minim disinyalir hanya hidup di Gn Gede Pangrango oleh karena itu jenis ini oleh IUCN dimasukan dalam Red List of Threatened Species.
Namun sepak terjang Dr. Max Bartels terhenti ketika Perang Dunia ke II terjadi dan melanda Indonesia.  Pada tahun 1941, rumah yang sekaligus museum koleksi keluarga Bartels di Pasir Datar Ciparay Sukabumi didatangi oleh tentara Jepang. Kedatangan tentara Jepang pada saat sore hari itu sangat singkat, dan Dr. Max Bartels tidak sempat mempersilahkan masuk dan hanya didepan pintu saja. Keesokan paginya, Dr. Max Bartels meninggalkan rumah dengan menggunakan delman menuju Camp tawanan perang Cimahi.
Sebelum dikirim menuju Burma untuk membangun Jalan Kereta Api, Dr. Max Bartels ditampung pada Prisoner-of-war camp (POW) Cimahi dan bertemu dengan Prof. Dr. Rudolf (Rudi) Willem Becking (6) (1922-2009) selama 8 bulan. Rudi menceritakan bahwa sebelum dikirim ke Burma Dr.Max Bartels mengalami depresi dan mengharapkan agar tidak dikirim menuju Burma, namun sayang pada pengiriman tawanan berikutnya Dr. Max Bartels dikirim ke Burma. Didalam kesaksiannya Rudi menyatakan bahwa Dr. Max Bartels menyerahkan seluruh hidupnya kepada Allah SWT apapun yang terjadi adalah terbaik untuknya. Dr. Max Bartels meninggal di Burma tanggal 6 Oktober 1942 dan dimakamkan pada Tempat Pemakaman Korban Perang Chungkai Burma. Ibu Ieuce yang pada saat itu masih berusia 5 tahun baru mengetahui bahwa ayahnya meninggal di Burma 50 tahun kemudian setelah salah seorang staff Palang Merah Internasional memberikan kalung prajurit Dr. Max Bartels. Dan pada tahun 1994, Ibu Ieuce dapat mengunjungi makam Dr. Max Bartels di Burma.
Selama di POW Cimahi, Dr. Max Bartels menceritakan seluruh pengalaman dalam penelitiannya ke Rudi termasuk koleksi telur yang dimilikinya dan pada saat itu berada di Museum Zoology Bogor (MZB) namun belum sempat diteliti lebih mendalam. Ketertarikan Rudi dalam meneliti telur koleksi Dr. Max Bartels membuat mereka merencanakan penelitian bersama jika perang telah usai.
Sepanjang perang, beberapa peneliti Belanda tetap bekerja untuk Jepang seperti ayah dan adik Rudi yakni Dr. Johannes Hendrik Becking sebagai Kepala Kehutanan Hindia Barat, dan Jan Hendrik (JH) Becking pada MZB. Peneliti lainnya yakni Dr. A Hoogerwerf, Dr. EG Van Steenis, HJV Sody juga bekerja pada MZB yang pada saat itu dirubah menjadi Dobutsu Hatsu Butsukan.
Atas anjuran Dr. A Hoogerwerf (7), pasukan Jepang "mengambil secara paksa" seluruh koleksi keluarga Bartels untuk di pindahkan ke Museum Zoologi Bogor (MZB) dengan alasan bahwa koleksi itu sangat dibutuhkan untuk proses pembuatan 3 buah buku tentang telur burung-burung di Kebun Raya dan Burung-Burung Cibodas, bukunya adalah De Avifauna van de Plantentuin te Buitenzorg (Java) 1949, De Avicfauna van Tjibodas en omgeving (1949) dan Een bijdrage tot de oologie van het eiland Java (1949). Pengambilan koleksi ini dilakukan bukan hanya satu kali namun berkali kali oleh Dr. A Hoogerwerf, termasuk ketika tahun 1946 ketika terjadi agressi militer Belanda ke II. Selain Dr. A. Hoogerwerf, Sody juga melakukan "penyelamatan" koleksi Bartels sepanjang tahun 1946 baik secara sendiri maupun ditemani oleh staf MZB.
Hampir seluruh koleksi dari keluarga Bartels saat ini telah berada NMNH Leiden yang berdasarkan keterangan Rudi bahwa khusus untuk koleksi telur dikirim ketika perang kemerdekaan pada tahun 1946, sedangkan secara keseluruhan dikirim pada tahun 1948 dan kemudian di catat di NMNH Leiden secara resmi tahun 1954. Koleksi keluarga Bertels tersimpan dalam beberapa ruangan khusus dalam 5 lantai di gedung NMNH Leiden sedangkan koleksi telur berada di gedung yang berbeda.
Untuk koleksi telur milik keluarga Bartels saat ini terjadi banyak pengakuan baik yang di lakukan oleh Dr. A Hoogerwerf maupun J.H. Becking. Berdasarkan pengakuan dari Becking bersaudara bahwa Dr. A Hoogerwerf telah membuat buku tentang telur yang berdasarkan koleksi Bartels dengan ilustrasi berwarna tanpa menyebut nama Dr. Max Bartels. Perselisihan ini juga diakui oleh Dr. A Hoogerwerf dalam suratnya kepada Ieuce anak dari Dr. Max Bartels bahwa ia telah dituduh oleh J.H. Becking pada bulan Februari 1969 mencuri hasil karya Dr. Max Bartels.
  • Koleksi Keluarga Bartels di NMNH Leiden
Berdasarkan penelusuran penulis ke NMNH Leiden pada tanggal 7 Desember 2010 mendapatkan keterangan bahwa sebagian besar koleksi Bartels tersimpan di NMNH Leiden termasuk catatan/note milik MEG Bartels dan Dr. Max Bartels seperti buku berjudul Aufzeichnungen jilid I sampai V, Javan Vogel yang berisi catatan expedisi dan pengamatan burung sebanyak 12 buku, Buku Harian dari tahun 1895-1928, Katalog Burung di Jawa sebanyak 9 jilid. Beberapa surat penting pun tersimpan seperti surat dari Hans Bartels tanggal 19 Juli 1983 yang menyatakan menyerahkan lukisan milik ibunya kepada NMNH Leiden.
Secara garis besar koleksi keluarga Bartels dapat berada di NMNH Leiden melalui tiga cara yakni :
  1. Dikirim secara langsung oleh MEG Bartels dan Dr. Max Bartels untuk diidentifikasi oleh para ahli taxonomi.
  2. Dibawa dan diserahkan oleh Ernst Bartels /Hans Bartels.
  3. Dibawa ketika masa agresi militer ke I dan ke II 1946-1949 oleh Dr. A. Hoogerwerf.
Namun berdasarkan keterangan A. Hoogerwerf, Rudy Becking dan Steven van der Mije (8), pada tahun 1954, seluruh koleksi yang ada NMNH telah "dibeli " oleh NMNH dari Ernst dan Hans Bartels.
Pasir Datar lokasi dimana rumah dan museum keluarga Bartels tinggal saat ini termasuk dalam kawasan Taman Nasional Gn Gede Pangrango. Kondisi rumah tersebut hanya tersisa pondasi-pondasi, anak tangga teras rumah serta makam MEG Bartels yang sederhana. Tutupan lahan kawasan tersebut berupa pohon damar dan semak belukar. Akses menuju lokasi tersebut cukup baik, baik dari arah Sukabumi maupun Bogor, namun 4 km sebelum mencapai lokasi kondisi jalan berbatu dengan lebar 4 m dan cukup sulit dilalui oleh kendaraan roda empat yang tidak memiliki empat roda penggerak. Lokasi berdekatan dengan Obyek Wisata Situ Gunung dengan kondisi hutan yang cukup baik bagi pengamatan burung.
Sangat disayangkan koleksi keluarga Bartels yang sangat berharga dari kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tersimpan di NMNH Leiden bukan di Indonesia padahal teknologi dan gedung penyimpanan yang berada di LIPI Cibinong saat ini berstandard internasional. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu Ieceu anak tunggal Dr Max Bartels, beliau mengharapkan agar kekayaan biodiversity tersebut dapat dibawa ke Indonesia (LIPI) untuk kepentingan ilmu pengetahuan putra putri Indonesia, oleh karena diharapkan adanya upaya repatriasi koleksi Bartels ke Indonesia.
Repatriasi merupakan salah satu upaya untuk mengembalikan koleksi Bartels, upaya ini dapat dilakukan oleh pemerintah Indonesia dan juga dukungan Ibu Ieuce selaku ahli waris keluarga Bartels di Indonesia mengingat cara perpindahan koleksi Bartels tersebut yang tidak mengindahkan hak pemilik atau ahli waris. Tidak selamanya Repatriasi kekayaan Indonesia dari Negara lain berhasil namun usaha ini perlu dilakukan dan perlu didukung demi kemajuan ilmu pengetahuan Indonesia. Salah satu keberhasilan repatriasi adalah kembalinya Orang Hutan dari Thailand ke Indonesia.
[ teks © TNGGP 122011 | P3 - red ]
  1. Penggiat Konservasi di  TNGGP
  2. Bartels dimodifikasi menjadi bartelsi/bartelsii banyak digunakan untuk nama burung, tikus dan tupai
  3. Max dimodifikasi menjadi maxi digunakan untuk nama latin tikus Bartels dan burung kacamata kuning dan Maxomys untuk genus rodentia.
  4. Angeline dimodifikasi angelinae adalah nama Istri MEG yang digunakan untuk nama latin burung hantu Jawa
  5. Seorang biolog professional yang berkontribusi bagi sejarah alam dan taxonomi untuk mamalia-mamalia Indonesia sepanjang decade 1940's dalam Bemmel, A. C. V . Van, 1960. In memorian H . J. V . Sody. — Lutra, 2: 1-5, pi. 1.
  6. Rudi Becking adalah seorang  Belanda yang dilahirkan di Jawa, menjadi tawanan perang Jepang dan setelah Agustus 1945 Rudi melanjutkan study di Wageningen Belanda S2 dan Doktor pada University of Washington USA. Terakhir beliau adalah professor di Humboldt State University dan merupakan saudara kandung dari J.H. Becking penulis buku Henri Jacob Victor Sody, 1892-1959: His Life and Work .
  7. 1931 Andreas Hoogerwerf  adalah seorang peneliti Belanda, pada 1931 datang ke Jawa dan bekerja pada  Bogor Botanical Gardens/ Kebun Raya Bogor.  Dia ditunjuk sebagai Petugas Perlindungan Alam pada Kawasan Suaka Alam di Koloni Belanda hingga tahun 1935 terutama di Taman Nasional Ujung Kulon untuk konservasi Badak Jawa. Hoogerwerf kembali ke Belanda pada th 1957. http://en.wikipedia.org/wiki/Andries_Hoogerwerf diakses tanggal 7 Januari 2011
  8. Senior Collection Manager Mammal And Bird-NMNH Leiden

16/12/11


Posted: 12 Dec 2011 06:20 PM PS
Berdasarkan Surat Keputusan Kepala Balai Besar TNGGP Nomor : SK.341/11-TU/3/2011 tanggal 8 Desember 2011 Tentang Penutupan Kegiatan Pendakian Dalam Rangka Pemulihan Ekosistem Hutan di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, maka pada tanggal 1 Januari sampai dengan 31 Maret 2012, kegiatan pendakian untuk umum di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) DITUTUP.
[ teks © TNGGP 122011 | ME - red ]

25/10/11

Dalam rangka menyambut Hari Puspa dan Satwa Nasional tanggal 5 November 2011, pemerintah mengumumkan penetapan puspa dan satwa nasional yaitu Bunga Tetepok (Nymphoides indica) dan Katak Api (Leptophryne cruentata). Untuk satwa, inilah kali pertama katak diangkat menjadi ikon satwa nasional. Katak api atau juga dikenal dengan nama kodok merah ini memang bukan sembarang katak. Katak berukuran kecil, berwarna hitam dengan bercak merah kekuningan di punggungnya – yang menjadi asal nama Katak Api – saat ini sudah sulit untuk ditemukan. Katak ini merupakan endemik Pulau Jawa, ditemukan di dekat sungai beraliran deras di dataran tinggi. Oleh karena habitatnya spesifik, tidak heran jenis ini hanya ditemukan pada daerah alami yang terjaga.
Katak api saat ini dilaporkan keberadaannya di Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP). Keberadaannya di TNGP telah tercatat sejak setengah abad yang lalu. Pada tahun 1960an, Liem, seorang peneliti dari Queeensland, Australia melakukan penelitian intensif mengenai keanekaragaman katak di jalur Cibodas. Tulisan Liem yang diterbitkan tahun 1971 merupakan satu-satunya catatan sejarah bahwa populasi katak api sangat melimpah saat itu. Hampir tiga dekade kemudian, peneliti dari ITB, Prof. Djoko Iskandar dalam bukunya "Amfibi Jawa dan Bali" mengatakan bahwa katak api dikhawatirkan telah punah dari jalur cibodas. Namun demikian melalui serangkaian survey intensif tahun 2003/2004 tim peneliti dari IPB yang diketuai oleh Mirza Kusrini menemukan kembali populasi katak api di dua lokasi yang diidentifikasi Liem. Pencarian di satu lokasi lagi yang disebut oleh Liem gagal menemukan keberadaan katak ini. Monitoring berkala sampai tahun ini antara tim IPB dengan TNGGP menemukan bahwa populasi Katak Api walaupun masih rendah dibanding tahun 1960an dianggap STABIL.
Salah satu dugaan turunnya populasi Katak Api adalah keberadaan penyakit chytridiomycosis, yaitu penyakit yang disebabkan oleh jamur chytrid dan mengakibatkan kematian katak. Laporan penelitian tahun 2008 telah mengkonfirmasi adanya jamur chytrid pada katak di TNGP. Alih-alih punah, tampaknya katak api termasuk jenis yang berhasil pulih dari serangan jamur chytrid.
Taman Nasional Gunung Gede Pangrango saat ini merupakan salah satu benteng utama bagi keberadaan Katak Api. Penelitian mengenai Katak Api dan katak lainnya menjadi salah satu prioritas kerjasama antara TNGP dan Fakultas Kehutanan IPB yang telah dijalin sejak beberapa tahun yang lalu. Oleh karena itu, penunjukkan Katak Api menjadi ikon satwa nasional 2011 sangat penting untuk meningkatkan apresiasi masyarakat akan keberadaan Katak Api.
[ teks © TNGGP 102011 | MIKI- red ]
You are subscribed to email updates from Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

20/09/11

Posted: 16 Sep 2011 06:21 AM PDT
Berdasarkan hasil laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai  Surat Nomor : 08/42.02/BGV.P.GDE/2011 Tanggal 5 September 2011 perihal Laporan Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Agustus kegiatan Gunung Gede dalam keadaan normal.http://gedepangrango.org/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif Kondisi normal Gunung Gede tersebut dapat terdeteksi dari keadaan visual, kegiatan Gunungapi itu sendiri dan kondisi kegempaannya, yang tergambar sebagai berikut :
Keadaan Visual
  • Cuaca di sekitar pos pengamatan dalam bulan ini, umumnya cerah dari pagi hari sampai siang sedang sore hari cuaca berawan.
  • Hujan yang tercatat sebanyak 2 kali, hujan lebat.
  • Hembusan angin umumnya tenang – lemah dari tenggara.
  • Suhu udara tercatat maksimum 22 0C dan Minimum 18,5 0C
Keadaan Kegiatan Gunungapi
  • Kegiatan yang dapat diamati dari pos pengamatan, tidak menunjukkan suatu perubahan permukaan yang mencolok.
  • Puncak gunung gede sering terlihat jelas pada waktu pagi hari dan tidak terlihat kepulan asap di atas kawahnya. Pada siang sampai sore hari sering tertutup kabut 0 – I s.d 0 - III.
  • Pemantauan lain yang terkait erat hubungannya dengan aktivitas vulkanik gunung gede tidak ada
Kegempaan
Pada Pesawat radio telemetri seismograf PS-2 terlihat beroperasi normal dan merekam gempa sejumlah 146 kali terdiri dari : 14x gempa vulkanik  A, 8x gempa tektonik lokal, 119x gempa tektonik jauh, 5x gempa terasa yakni pada: tanggal 16-8-2011 pukul 14.38.15,5 Skala MMI.II, tanggal 19-8-2011 pukul 04.43.01 Skala MMI.I, tanggal 21-8-2011 pukul 23.54.36 Skala MMI.III, tanggal 23-8-2011 pukul 03.13.09,5 Skala MMI.III dan pada tanggal 29-08-2011 pukul 15.57.24 Skala MMI.II.
Sehingga status kegiatan Gunung Gede dapat disimpulkan masih dalam keadaan NORMAL.
[ teks © TNGGP 092011 | ME - red ]

30/08/11


Sekedar melarang itu gampang. Tetapi larangan tidak semuanya bias dimengerti, apalagi di turuti. Apa upaya orang tua selanjutnya ?
Naik gunung merupakan olahraga yang makin popular dewasa ini. Anak muda berbondong untuk menyalurkan rasa ingin tahu dan jiwa petualangan mereka. Apa yang diperbuat orang tua bila tahu anaknya kerajinan dalam hal ini ?


Mencoba Menerima Arti

Bagi orang tua, naik gunung Cuma melelahkandan penuh bahaya. Tetapi, bagi anak muda lain lagi.

Jalan pertama agar terjadi penyesuaian antara keinginan anakdan orang tua adalah upaya si orang tua untuk mengerti apa arti dan nilai pendakian itu bagi anak-anak mereka. Dan apa pengaruhnya bagi perkembangan jiwa raga mereka. Karena dengan perjalanan itu, si anak bias menguji kemampuan dirinya, hingga mereka bias mendapatkankepercayaan diri lebih besar.

Beri Penerangan

Semua tempat yang tidak dikenal selalu berbahaya. Bukan hanya gunung atau laut. Dijalanpun bias ketabrak kendaraan kalau tidak tau cara menyesuaikan diri. Jadi, sebaiknya orang tua cukup bijaksana untuk memberikan penerangan anaknya, kalau larangannya tidak digubris. Sediakan buku, Koran, majalah, dan segala informasi yang berguna, yang isinya merupakan panduan bermanfaat. Ajak anak berdiskusi atau sekedar memperbincangkan hal ini. Mereka butuh keterangan. Daripada mendapatkan keterangan yang kurang lengkap diluaran, lebih baik dilengkapi dengan bekal pengetahuan. Makin lengkap, makin baik.

Masukkan Dalam Klub

Pendakian secara liar, tanpa mengetahui “ tata cara dan santun” sangat berbahaya. Sebaiknya anak dimasukkan dalam klub pecinta alam atau pendakian. Di tempat tersebut, keamanan mereka lebih terjamin. Biasanya, ditempat tersebut banyak pendaki senior yang tahu banyak tentang gunung, sifat-sifatnya dan cara mengatasinya. Anak tidak hanya mendapatkan teori, tetapi juga pengetahuan praktis.

Bantu Perlengkapannya

Perlengkapan sangat penting untuk melaksanakan perjalanan. Tubuh dan stamina sulit dijaga tanpa perlengkapanmemadai. Udara dingin, hujan, bekal, butuh peralatan tersendiri untuk menghadapinya. Termasuk tali, sepatu, jaket, dan kemah atau tenda. Anak yang sembunyi-sembunyi naik gunung dengan peralatan seadanya, memiliki resiko yang lebih besar. Orang tua yang bijaksana akan membantu anak-anaknya demi keselamatan mereka sendiri. Tak ada buruknya menanyakan pada klub setempat, apa saja perlengkapan dasar yang harus dimiliki. Kemudian, diskusikan dengan si anak tentang cara pengadaannya. Potong uang saku, sebagai hadiah ulang tahun misalnya, terserah pada musyawarah bersama. Jangan ada kesan memanjakan, atau kelihatan tidak rela.

Jangan Kecewa

Persiapkan agar tidak kecewa. Soalnya, anak biasanya suka yang sedang trendy. Karena naik gunung bias juga mode yang berlaku untuk sesaat. Disaat lait akan diganti dengan petualangan baru. Bila keselamatan anak yang diutamakan, biaya bukan masalah besar.
Bagaimanapun, keselamatan jiwasangat mahal. Jangan kegiatan iseng malah jadi malapetaka.

22/07/11

 
Saat ini, dengan kemajuan telekomunikasi yang terus berkembang, hand phone (HP) atau phone cell sudah menjadi kebutuhan masyarakat baik kalangan kelas bawah hingga atas, bahkan para pelajar yang masih duduk di sekolah dasar telah memilikinya, apalagi para pendaki yang rata-rata berusia 17 tahun keatas HP tentunya sudah dimiliki.
Untuk itu, Taman Nasional Gn Gede Pangrango (TNGGP) mengharapkan agar para pendaki dapat menggunakan HP secara baik dan benar ketika pendakian untuk keselamatan dalam pendakian dan tidak menggangu satwa di sepanjang jalur pendakian. Tercatat 3 kejadian hilangnya pendaki di jalur Selabintana dan Cibodas sepanjang 2009-2010 dapat ditemukan menggunakan sistim komunikasi yang baik dengan HP. Adapun standard prosedur penggunaan HP adalah sebagai berikut :

1. Diharapkan seluruh HP dalam 1 Tim/kelompok pendaki harus dalam keadaan full, jika diperlukan dapat membawa battery cadangan.
2. Bungkuslah HP dengan plastic transparan agar tidak kemasukan air baik secara langsung maupun tidak langsung seperti embun, terpercik air hujan maupun sungai atau jatuh.
3. Sebelum mendaki kirimkanlah pesan (SMS) kepada orang yang anda percaya bahwa anda akan mendaki.
4. Simpanlah HP ditempat yang hangat/dibalut kain, hal ini dilakukan karena battery akan habis dengan sendirinya dalam suhu dingin, kemudian matikan HP, hal ini dilakukan mengingat ketinggian 1500 meter dpl sinyal sudah tidak ada, kecuali jalur Sukabumi, sinyal HP masih ada hingga ketinggian 2300 m dpl.
5. Hidupkan HP hanya untuk keperluan yang mendesak usahakan hanya SMS, jangan digunakan untuk menelepon, koneksi internet, menyalakan dan mendengarkan lagu, penerangan/senter.
6. Usahakan dalam 1 kelompok hanya 1 hp yang hidup, dan yang lain disimpan serta dimatikan. Hal ini dilakukan apabila anda tersesat masih ada persediaan alat komunikasi yang masih digunakan.
7. Teknik penggunaan HP apabila dalam keadaan kritis/darurat:
a. HP yang digunakan cukup 1 saja, sedangkan milik rekan yang lain disimpan dulu untuk cadangan. Cukup kirim pesan setiap 1 jam kepada orang yang dapat anda andalkan.
b. kirimlah pesan kepada rekan anda yang dapat diandalkan yang berisi : jalur pendakian, jumlah pendaki, kondisi kesehatan, persediaan logistic, air. Selain itu kirimkan deskripsi lokasi saat ini berada dan agar menghubungi petugas TNGGP di no 0263-512776/519415 (no telp tercantum dalam simaksi) contoh :
"kami di jalur Selabintana, jlh 6 org, 1 sakit demam, tdk ada obat, makanan cukup utk 1 hari lagi, air cukup, posisi dekat air terjun, terdengar suara gemuruh air, terdapat longsoran tanah besar, pohon2 besar dan bermacam jenis, telihat kota Sukabumi terutama menara …".
c. janganlah menerima atau menggunakan HP untuk berbicara kecuali persediaan battery/HP dalam satu kelompok dimungkinkan untuk bicara.
d. Jika memungkinkan gunakan koneksi internet untuk mengirim pesan ke rekan yang bisa di andalkan baik via e mail, e mail FB, maupun chating.
8. Dan apabila telah turun kembali, kirimlah pesan kepada orang yang ada percayai bahwa anda telah sampai dalam keadaan selamat.
9. Diharapkan dengan menerapkan prosedur penggunaan HP di TNGGP anda akan selamat dan tertolong berkat kesiapan dan kecakapan anda dalam menggunakan HP.
[ teks © TNGGP 072011 | P3 - red ]

21/04/11



Posted: 12 Apr 2011 04:57 AM PDT
Berdasarkan hasil laporan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Pos Pengamatan Gunungapi Gede yang berada di Desa Ciloto Kecamatan Cipanas Telp (0263) 511343 Kabupaten Cianjur Jawa Barat sesuai  Surat Nomor : 03/42.02/BGV/.P.GDE/2011 Tanggal 1 April 2011 perihal Laporan Kegiatan Gunung Gede dijelaskan, bahwa dalam bulan Maret kegiatan Gunung Gede dalam keadaan normal. Kondisi normal Gunung Gede tersebut dapat terdeteksi dari keadaan visual, kegiatan Gunungapi itu sendiri dan kondisi kegempaannya, yang tergambar sebagai berikut :
Keadaan Visual
  • Cuaca di sekitar pos pengamatan dalam bulan ini, umumnya cerah dan berawan pada pagi hari, siang hari cerah dan berawan sedang sore hari cuaca mendung dan hujan
  • Hujan yang tercatat sebanyak 41 kali, hujan gerimis sampai lebat
  • Hembusan angin sering bertiup lemah sampai sedang dari arah barat laut
  • Suhu udara tercatat maksimum 22 C dan Minimum 18 C
Keadaan Kegiatan Gunungapi
  • Kegiatan yang dapat diamati dari pos pengamatan, tidak menunjukkan suatu perubahan permukaan yang mencolok
  • Puncak gunung gede sering terlihat jelas pada waktu pagi hari dan tidak terlihat kepulan asap di atas kawahnya. Pada siang sampai sore hari tertutup kabut
  • Pemantauan lain visual yang terkait erat hubungannya dengan aktivitas vulkanik gunung gede tidak ada
Kegempaan
Pada Pesawat radio telemetri seismograf PS-2 terlihat beroperasi normal dan merekam gempa sejumlah 124 kali terdiri dari : 25 x gempa vulkanik  A, 94 x gempa tektonik jauh, 3 x gempa tektonik local, 2 x gempa terasa yakni pada : tanggal 11-03-2011 pukul 00.10.52,5 skala MMI.II dan tanggal 20-03-2011 pukul 08.20.33 Skala MMI.III
Sehingga status kegiatan Gunung Gede dapat disimpulkan Kesimpulan masih dalam keadaan NORMAL.
You are subscribed to email updates from Taman Nasional Gunung Gede Pangrango [National Park]
To stop receiving these emails, you may unsubscribe now.
Email delivery powered by Google
Google Inc., 20 West Kinzie, Chicago IL USA 60610

01/04/11

Untuk menunjang latihan fisik buat Climber, lebih baik kita punya Pull Up Training Board sendiri, ini barang kalo gak mo repot bisa dibeli di toko2 yg menyediakan perlengkapan kegiatan outdoor. Ada banyak ukuraran dan model, ini ada beberapa contoh yg diambil dari beberapa website yg menjual barang tersebut.




ini yg dari kayu

Nah, berhubung di Indonesia ini rada susah nyari barang kaya gitu, apa lagi untuk yang berdomilisi diluar kota2 besar, maka lebih baik kita sedikit berkreasi dengan membuat sendiri.
Disini akan diilustrasikan bagaimana pembuatannya, tapi mari kita bahas dulu pengaplikasiannya.
Setelah nanti Pull Up Boardnya jadi, bisa dipasang di atasnya kusen pintu / pintu kamar dimana kita sering lewat atau yg jarang dilewatin orang banyak sekalipun itu dirumah kita sendiri. Contoh pemasangannya seperti ini..
atau
Pada gambar kedua, itukan keliatan dasarnya adalah papan dan untuk pegangannya dari climbing hold atau disini lebih dikenal dengan istilah ”point”. Kalo emang gak mau repot yah bisa ajah beli point seperti itu atau pakai yg kita bikin sendiri [lihat artikel "Membuat Point Climbing"] tinggal dipasang dipapan dan di baut ke tembok diatas kusen pintu.
Tapi seumpama mo sedikit repot / susah dapetin point / mo lebih irit, masri kita berkreasi dengan bahan besi siku / besi L, papan dan dyna bold.
Bahan-bahan yg diperlukan :
- Papan kayu keras [jangan kayu borneo, kalo bisa minimal dari kayu jati belanda / kayu nangka] dengan ketebalan minumal 15 mm supaya gak mudah patah / belah. Lebar 15 cm Panjang 50 cm
- Dyna Bold 7 cm, 5 buah
- Besi L / Besi Siku, Lebar 5 cm Panjang 45 cm Tebal 3 mm
- Kayu reng [kayu keras] à untuk membuat model lainnya
Peralatan yang diperlukan :
- Gergaji
- Bor [mesin / tangan / manual sama ajah]
- Mata Bor Kayu
- Mata Bor Tembok
- Mata Bor Besi à untuk bolongin besi siku, kalo gak mau repot, bisa minta bolongin di tukang besi
- Kunci pass / Kunci Hex
Cara buat :
  1. Pastikan kayu yg dipilih adalah jenis kayu keras, seperti kayu jati, nangka, jati belanda, ulin atau sejenisnya
  2. Kalau mau yg halus, papan bisa di serut dulu sebelum dipotong
  3. Potong papan sepanjang 50 cm
  4. Buat lubang di pojok kanan-kiri bagian atas untuk penempatan dynabold
  5. Ambil besi L / Besi siku yg sudah dipotong sepanjang 45 cm, lalu dilubangi 3 buah tersebar merata disatu sisi, jangan melubangi terlalu dekat dengan ujung agar tidak mudah patah
  6. Pasang besi L / besi siku yg sudah dilubangi tsb ke badan papan, lalu lubangi lagi papan sesuai dengan lubang yg ada di besi L / besi siku
  7. Ukur posisi penempatannya di atas kusen pintu, lalu tandai titik-titik yang harus dilubangi
  8. Lubangi tembok dengan menggunakan bor tembok, leboh baik sedikit lebih panjang dari panjang dynabold yang akan digunakan, tapi hati2 jangan sampai tembus tembok
  9. Pasang dynabold-nya dan kencangkan
Catatan :
- Sebaiknya penempatan tinggi board sedikit lebih tinggi dari jangkauan terjauh dalam artian kita harus jinjit untuk meraih pegangannya dengan maksud supaya sewaktu melakukan pull up kita tidak perlu menekuk kaki terlalu banyak
Informasi Tambahan :
Pengunaan :
Alternatif Design :

Pull Up yng benar :

Selamat berkarya dan berlatih..!!
 

Teman Kami

Dharma Eka